PASANG IKLAN DISINI
Tampilkan postingan dengan label Lingkungan Hidup. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lingkungan Hidup. Tampilkan semua postingan

160 Tahun Hilang, Jamur Hantu Ditemukan

Written By tiko on Selasa, 12 Juli 2011 | 02.07

Inbox News - Spesies jamur Neonothopanus gardner berhasil ditemukan kembali di wilayah Brasilia pada 2009 oleh tim ilmuwan yang dipimpin Dennis Desjardin dari San Fransisco State University. Sebelumnya, spesies itu dinyatakan menghilang sejak tahun 1840. 

Penemuan kembali spesies tersebut dimuat dalam jurnal Mycologia bulan Juli 2011. Neonothopanus gardner unik karena bisa bercahaya (bioluminescence) dalam gelap seperti kunang-kunang. Jamur yang bisa memproduksi cahaya acapkali disebut jamur hantu. 

Untuk menemukan spesies ini, Desjardin dan rekannya harus keluar pada malam hari, mengarungi hutan, serta waspada dengan serangan ular dan jaguar. Dengan kamera digital, mereka memotret jamur yang diduga bioluminescence dan menganalisis sinarannya, kadang yang tak bisa dilihat mata. 

"Jamur ini bercahaya 24 jam sehari selama oksigen dan air ada," kata Desjardin. Hal itu berlainan dengan hewan bioluminescence yang hanya mengeluarkan cahaya dengan pola semburan. Menurut Desjardin, hal itu menunjukkan bahwa senyawa penyebab cahaya tersedia dalam jumlah melimpah. 

Menurut Desjardin, cara jamur ini memproduksi cahaya sama dengan cara kunang-kunang, yakni dengan senyawa luciferin. Enzim luciferace akan memacu interaksi senyawa tersebut dengan air dan oksigen sehingga menghasilkan senyawa baru yang mengemisikan cahaya. 

Luciferin dan luciferace pada jamur sampai kini belum diidentifikasi. Alasan jamur mengeluarkan cahaya juga masih misteri. Ilmuwan menduga, cahaya berperan menarik serangga, tetapi pada kasus jamurfoxfire yang mengeluarkan cahaya di mycelium-nya (unit vegetatif jamur yang terdiri atas benang-benang halus), cahaya justru membahayakan.  

"Kami belum tahu mengapa hal itu terjadi. Mungkin mycelium (dalam kasus foxfire) bercahaya untuk menarik pemangsa serangga dan akan memakannya sebelum serangga sendiri berhasil memakanmycelium. Namun, sejauh ini kita belum punya data pendukung pendapat ini,"

Sumber : dailymail.co.uk
02.07 | 0 komentar | Read More

Kucing Juga Bisa Menggonggong

Inbox News - Seekor kucing terekam kamera saat mengeluarkan suara seperti anjing menggonggong. Ahli perilaku hewan Nicholas Dodman menjelaskan kejadian tersebut secara ilmiah.
Menurut Dodman, susunan laring, trakea, dan diafragma kucing cukup mirip dengan susunan pada anjing. "Saat beroperasi pada kondisi tertentu, kucing bisa menghasilkan suara mirip gonggongan," jelas Dodman yang juga profesor di Cummings School of Veterinary Medicine di Tufts University.
Gonggongan tersebut, seperti dijelaskan Dodman, diakibatkan aliran udara yang tiba-tiba di saluran udara. "Kucing yang terlalu gembira bisa menghasilkan suara itu. Mirip dengan meong yang dipaksakan," katanya.
Kucing tersebut juga kemungkinan belajar mengeluarkan suara gonggongan dari anjing. "Bisa saja menirukan suara yang sering didengarnya," kata Dodman kepada Life's Little Mysteries.
Dalam video yang dilihat lebih dari 4 juta kali di YouTube, kucing itu mengeluarkan suara seperti gonggongan ke arah jendela. Saat melihat pemiliknya merekam, kucing kembali mengeluarkan suara meong.

Sumber : National Geograpic
02.05 | 0 komentar | Read More

Anjing Bisa Bedakan Orang Kembar Identik

Inbox News - Anjing dapat membedakan orang yang kembar identik. Temuan ini bisa mengubah cara melatih anjing untuk mengenali orang yang selama ini dilakukan dengan mengenali bau. Demikian hasil penelitian para ilmuwan di Republik Ceko.
Pada percobaan, peneliti mencoba kemampuan anjing untuk membedakan dua pasang kembar identik yakni dua anak laki-laki berusia 5 tahun dan dua anak perempuan berusia 7 tahun. Peneliti juga mencoba menggunakan kembar fraternal yakni dua orang perempuan berusia 8 tahun dan laki-laki 13 tahun. Kembar fraternal adalah anak yang lahir bersamaan namun dari dua sel telur yang dibuahi oleh dua sel sperma yang berbeda.
Eksperimen dilakukan dengan 10 ekor anjing german shepherd dan setiap anjing melakukan 12 tes. Semua anjing diminta mencium sebuah sapu tangan dan mencari bau yang sama dari 7 kemungkinan. Dari uji coba, peneliti mendapati bahwa seluruh anjing memilih jawaban yang tepat.
Anjing mampu membedakan seorang anak dari kembarannya tanpa sekali pun melakukan kesalahan. Anjing tetap bisa menerka meski seluruh anak kembar itu tinggal di tempat yang sama dan menyantap makanan yang sama dengan kembarannya.
Sebagai perbandingan, DNA tes saja tidak bisa membedakan antara kembar identik meski tes DNA masih mampu membedakan kembar fraternal yang hanya memiliki gen serupa dengan kembarannya. "Anjing bisa membedakan bau tubuh kembar identik jika ia sangat terlatih," kata Ludek Bartos, ekolog asal Czech University of Life Sciences di Praha.
Seputar bagaimana anjing bisa membedakan kembar identik, peneliti mengakui adanya kemungkinan faktor luar seperti infeksi yang dapat memengaruhi bau tubuh tiap-tiap anak kembar. "Perlu ditekankan bahwa kita masih jauh dari menjelaskan alasan mengapa anak kembar berbeda," kata Bartos.
Namun demikian, Bartos menyebutkan, penelitian di masa depan sudah bisa fokus ke apakah atau kapan bau anak kembar mulai berbeda sejalan dengan bertambahnya usia. Hasil penelitian ini sendiri telah dipaparkan pada jurnal PloS ONE.

Sumber : National Geograpic
02.00 | 0 komentar | Read More

Sampah Plastik Ancam Kehidupan Paus

Inbox News - Jutaan ton sampah plastik yang dibuang ke laut tiap tahunnya menghadirkan ancaman serius bagi paus. Detail dari kesimpulan itu akan diungkapkan dalam sebuah forum kelautan internasional yang berlangsung 11 hingga 14 Juli 2011 di Jersey, Inggris.
Sebagai contoh, di tahun 2008, dua ekor paus sperma yang terdampar di pesisir California, AS, memiliki 205 kilogram jaring ikan dan serpihan sampah plastik dalam tubuhnya. Seekor di antaranya memiliki perut yang rusak dan seekor lainnya, dalam kondisi kelaparan, memiliki banyak sampah plastik yang menghalangi saluran pencernaannya.
Tujuh ekor paus sperma yang terdampar di selatan Italia pada tahun 2009 juga didapati telah menelan kail, tali, dan objek-objek plastik lainnya. Seekor paus lain, yang ditemukan tewas di perairan Prancis tahun 2002, bahkan telah menelan hampir satu ton sampah, termasuk kantung plastik dari dua supermarket terkenal di Inggris.
"Paus Cuvier di kawasan utara Atlantik tampaknya yang paling sering didapati menelan dan mati karena kantung plastik," kata Mark Simmonds, anggota Scientific Committee of the International Whaling Commission (IWC) yang menuliskan laporan tersebut.
Sayangnya, peneliti kesulitan untuk memastikan seluruh populasi paus terancam oleh masalah ini. "Di banyak kawasan di dunia, bangkai paus yang terdampar tidak dicatat dan diperiksa. Sayangnya, di kawasan di mana paus yang terdampar dicatat, pemeriksaan terhadap konten yang ditelan jarang dilakukan," kata Chris Parsons, biolog kelautan dari George Mason University, Virginia, AS.
Para pakar menyebutkan, sebagian besar paus yang mati akibat menelan sampah atau alat-alat penangkap ikan, umumnya tenggelam ke dasar laut.
Meski jarang didata, namun terdapat bukti-bukti bahwa sampah plastik di laut bisa membahayakan paus. Peneliti menyebutkan bukti-bukti ini perlu segera diselidiki lebih lanjut.
"Kami belum mengetahui sampah laut berada di peringkat berapa dalam daftar ancaman dibandingkan dengan ancaman lain. Namun dengan semakin banyaknya sampah di samudera, sampah plastik akan menjadi ancaman yang semakin besar,"

Sumber : National Geograpic
01.54 | 0 komentar | Read More

Polusi Malah Menunda Pemanasan Global

Written By tiko on Rabu, 06 Juli 2011 | 20.57

Inbox News - Emisi yang dihasilkan dari penggunaan batu bara oleh negara-negara Asia diperkirakan menunda pemanasan global selama satu dekade sejak 1998. Meskipun demikian, ancaman efek rumah kaca masih nyata dan dampaknya dapat terasa ketika negara-negara berkembang berhasil mengatasi polusi.
Penundaan kenaikan suhu itu diakibatkan sulfur dalam jumlah sangat banyak dan memiliki efek mendinginkan pada planet. Aerosol yang dihasilkan dari sulfur menyebabkan pembentukan lapisan awan tebal yang membuat sinar matahari tidak sepenuhnya masuk ke bumi.
"Penundaan ini bisa dibilang fatamorgana," ujar para peneliti yang berasal dari berbagai universitas, termasuk Boston dan Harvard University dari AS dan University of Turku dari Finlandia. "Efek dari pelepasan karbon selain sulfur akan muncul dalam jangka panjang," demikian tertera dalam laporan yang diterbitkan hari Minggu lalu.
Penundaan peningkatan temperatur ini tidak akan berlangsung lama. Demikian dijelaskan peneliti. Ketika negara-negara berkembang berhasil mengatasi polusi, emisi sulfur juga akan berkurang. "Aerosol di atmosfer akan berkurang dan suhu planet akan meningkat cepat mengingat jumlah karbon di atmosfer pun sudah banyak," ujarnya.
Laporan itu juga berisi tentang fakta bahwa peningkatan temperatur global tidak berubah secara signifikan selama tahun 1998 sampai 2008 meskipun berton-ton emisi karbon dilepaskan ke atmosfer.
Emisi karbon pada masa itu banyak dihasilkan oleh negara-negara Asia yang ekonominya sedang berkembang.

20.57 | 0 komentar | Read More

Kerang Raksasa Masih Butuh Verifikasi

Inbox News - Temuan yang diduga dua spesies baru kerang raksasa (kima) di perairan Sulawesi Tenggara, beberapa waktu lalu, masih menunggu verifikasi ilmiah. Hal tersebut sekaligus mendorong pemberian status perlindungan.
"Lembaga yang berwenang dan kompeten memverifikasi dua spesies kerang itu adalah Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)," kata Pengendali Ekosistem Hutan Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sulawesi Tenggara, Priehanto di Kendari, Selasa (5/7/2011).
Seperti diberitakan, kelompok swadaya Konservasi Taman Laut Kima Toli-Toli di Kabupaten Konawe, Sultra, mengidentifikasi dua spesies baru kima yang tak tercatat hidup di Indonesia. Keduanya serupa dengan Tridacna tevoroa dan Tridacna rosewateri.
Selama ini, T tevoroa diketahui hanya hidup di Kepulauan Fiji dan Tonga di Pasifik dan T rosewaterihanya ditemukan di Mauritius dan Madagaskar. Belum ada kepastian ilmiah soal temuan itu ataupun alasannya ada di perairan Indonesia.
Sejauh ini ada tujuh spesies kima di perairan Indonesia, yakni Tridacna gigas, T maxima, T derasa, T squamosa, T crocea, Hippopus-hippopus, dan Hippopus porcellanus. Peran kima vital dalam ekosistem laut dangkal sebagai filter alami dan sumber makanan satwa laut lain

20.54 | 0 komentar | Read More
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...