PASANG IKLAN DISINI
Tampilkan postingan dengan label Ekonomi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ekonomi. Tampilkan semua postingan

Ekonomi China Lesu, Harga Minyak Tertekan

Written By tiko on Selasa, 12 Juli 2011 | 02.23

INbox News - Harga minyak turun pada Senin waktu setempat, tertekan oleh meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap perlambatan ekonomi China dan krisis utang zona euro. Kontrak utama New York, minyak mentah light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Agustus, ditutup pada 95,15 dollar AS per barrel, turun 1,05 dollar AS dari penutupan Jumat pekan lalu.
Di London, minyak mentah Brent North Sea untuk pengiriman Agustus merosot 1,09 dollar AS menjadi menetap di 117,24 dollar AS per barrel. Pada Jumat, patokan New York kontrak West Texas Intermediate menyusut hampir 2,50 dollar AS setelah rilis laporan pekerjaan Juni memprihatinkan di Amerika Serikat, negara konsumen minyak terbesar dunia.
Perkembangan ekonomi AS tidak berdampak banyak terhadap penciptaan lapangan pekerjaan dan tingkat pengangguran tiba-tiba naik menjadi 9,2 persen. "Kita bukan hanya melihat harapan menurunnya permintaan di Amerika Serikat, melainkan juga di seluruh dunia," kata Phil Flynn, seorang analis energi pada PFGBEST.
China, konsumen minyak terbesar kedua, Sabtu, melaporkan, tingkat inflasinya melaju kian cepat pada Juni menjadi 6,4 persen, tingkat tertinggi dalam tiga tahun. Beberapa analis khawatir Beijing mungkin akan bertindak terlalu jauh dalam kebijakan pengetatan moneter untuk mengekang overheating dalam perekonomian.

SUmber : ANT, AFP
02.23 | 0 komentar | Read More

Subsidi Listrik Tahun Ini Bisa Bengkak Rp25,7 Triliun

Written By tiko on Rabu, 06 Juli 2011 | 20.27

Inbox News -  Kementerian Keuangan memperkirakan realisasi subsidi listrik hingga akhir tahun ini mencapai Rp66,4 triliun atau membengkak Rp25,7 triliun dari target yang ditetapkan dalam APBN Rp40,7 triliun.

"Peningkatan beban subsidi listrik karena tiga hal, penurunan pasokan gas, keterlambatan penyelesaian COD PLTU dan kenaikan harga batubara," kata pelaksana tugas Kepala Badan Kebijakan Fiskal Bambang Brodjonegoro di Jakarta, Rabu.

Ia menjelaskan permasalahan tersebut merupakan masalah internal yang seharusnya diberikan perhatian lebih lanjut untuk dicari solusi agar subsidi tidak membengkak.

"Jadi lebih berkaitan dengan internal, kalau manajemen PLN lebih kepada keterlambatan COD-nya itu. Kalau proyeknya terlambat ya otomatis bahan bakarnya BBM lagi, harusnya batu bara kan. Kemudian faktor ESDM sebagai kementerian yang menunjang PLN itu adalah kepastian pasokan gas," ujar Bambang.

Namun, Bambang mengatakan bahwa pemerintah tidak bisa menaikkan tarif dasar listrik (TDL) pada pertengahan tahun sebagai antisipasi agar subsidi tidak melambung terlalu tinggi.

Ia mengatakan, tidak seperti opsi untuk menaikkan harga BBM yang tercantum dalam UU APBN, kenaikan tarif dasar listrik tidak masuk dalam UU sehingga tidak ada opsi lain selain menambahkan subsidi untuk kebutuhan PLN.

"TDL tidak bisa dinaikkan, harus ditentukan di awal tahun. Perubahan TDL kan harus ditentukan di awal tahun. Jadi 2011 tidak ada, harus menambah subsidi. Kalau BBM kan sudah ada pasal yang menyatakan bahwa pemerintah boleh menaikan harga. Kalau TDL tidak ada, tidak ada pasal yang memberikan kelonggaran kepada pemerintah, itu harus disepakati di awal APBN," katanya.

Pemerintah dalam pembicaraan pendahuluan penyusunan RAPBN 2012 telah merumuskan beberapa kebijakan mengenai subsidi listrik antara lain menjaga penyediaan tenaga listrik secara efisien dan menjaga kesinambungan kepentingan penyedia listrik (PLN) dan konsumen.

Kemudian, pemberian subsidi listrik kepada golongan pelanggan yang lebih tepat sasaran dengan didukung kebijakan tarif, adanya penurunan susut jaringan listrik, mempertimbangkan margin usaha PT PLN sebesar 7 persen dalam rangka pemenuhan persyaratan pembiayaan investasi pembangunan proyek 10 ribu MW.

Terakhir, optimalisasi bauran energi untuk bahan bakar pembangkit, terutama dengan cara menurunkan penggunaan BBM serta menjamin dan menjaga ketersediaan pasokan gas bumi, batubara dan jenis energi lainnya.

Sumber : Antara
20.27 | 0 komentar | Read More

Relokasi Industri Jepang Untungkan RI

Written By tiko on Senin, 30 Mei 2011 | 02.16

Inbox News -  Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) memperkirakan terjadinya kenaikan nilai investasi dari wacana relokasi industri Jepang di Indonesia. Iklim investasi di Tanah Air secara tidak langsung diuntungkan dari musibah gempa dan tsunami di Jepang, Maret lalu.

"Indonesia bisa mendapatkan 'ledakan' (investasi) yang luar biasa dari Jepang. Kami juga masih menanti dan siap-siap dalam pembangunan infrastruktur serta lainnya," kata Deputi Kepala BKPM Bidang Pelayanan Penanaman Modal, Teuku Otman Rasyid, pada Diskusi Interaktif Penanaman Modal 2011 di Jakarta, Kamis, 5 Mei 2011.

Menurut Teuku, investasi di Indonesia akan diuntungkan dari imbas krisis ekonomi pada 2008, bencana tsunami 2011 hingga kebocoran pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) yang menjadi pasokan energi bagi industri di Jepang.
Sebelumnya, pemerintah Indonesia di antaranya memang menawarkan untuk merelokasi pabrik milik Komatsu di Jepang ke Tanah Air.

Menteri Perindustrian, MS Hidayat, mengatakan, sekitar 70 persen pabrik Komatsu di Jepang mengalami kerusakan akibat musibah tsunami Maret lalu. "Komatsu bisa pindahkan basis produksinya ke Indonesia," kata MS Hidayat, kemarin.
Teuku menambahkan, realisasi investasi selama triwulan I-2011 cukup menggembirakan. Data BKPM menyebutkan, total nilai investasi selama periode itu mencapai Rp53,6 triliun atau meningkat 27,3 persen dibanding triwulan I-2010 sebesar Rp42,1 triliun.

Untuk lebih meningkatkan investasi, dia menjelaskan, para calon investor asing maupun dalam negeri perlu difasilitasi dengan baik, sehingga perencanaannya menjadi kenyataan.

"BKPM menjalin hubungan erat dengan daerah. Kami juga memberi bantuan dana ke daerah untuk penelusuran perusahaan-perusahaan yang belum merealisasikan investasinya," ujar Teuku.

Selama Januari hingga dengan April 2011, BKPM mengklaim telah menerima aplikasi rencana penanaman modal dan menerbitkan pendaftaran penanaman modal maupun izin prinsip penanaman modal kepada calon investor asing dan dalam negeri. Para calon investor itu umumnya memanfaatkan potensi sumber daya alam di Indonesia.

"Kami sudah memiliki daftar perusahaan PMA berdasarkan data pendaftaran penanaman modal periode Januari hingga April 2011, Jumlahnya ada 600 perusahaan," tuturnya.

Sementara itu, daftar perusahaan yang sudah tergolong Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) berdasarkan data izin prinsip mencapai enam perusahaan serta Penanaman Modal Asing (PMA) sebanyak 45 perusahaan. Total nilai investasi mencapai lebih dari US$4 triliun.
02.16 | 0 komentar | Read More

2011, Investasi Dunia Capai US$1,5 Triliun

Inbox News -  Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mengungkapkan, berdasarkan data United Nations Conference on Trade and Development, tren investasi dunia sejak 2009 terus meningkat dan diperkirakan berlanjut hingga tahun 2012. 

Menurut Kepala BKPM, Gita Wirjawan, pada 2009 arus investasi dunia hanya sekitar US$1,1 triliun tapi tahun ini diprediksi meningkat US$1,3 hingga 1,5 trilliun. "Perkembangan tren investasi dunia sangat prospektif," ujarnya dalam keterangannya yang diterima VIVAnews.com di Jakarta, Rabu malam 11 Mei 2011.

Bahkan, dia menambahkan, jika UNCTAD memperkirakan ada kenaikan lebih dari 20 persen dari 2009 ke 2011 menjadi US$1,5 trilliun, Economist Intelligent Unit malah memprediksi akan kenaikannya hingga US$1,6 triliun.

Gita menuturkan, bila melihat tren perkembangan investasi dunia yang meningkat, hal ini merupakan potensi besar bagi Indonesia untuk berlomba mendapatkan investasi jangka panjang yang prospektif. "Indonesia harus aktif mengambil peluang yang ada, sehingga Indonesia bisa mendapatkan investasi jangka panjang yang menguntungkan bagi perekonomian nasional," kata dia.

Untuk itu, dia melanjutkan, dalam rangka rebranding Indonesia sebagai negara tujuan investasi yang prospektif, BKPM terus berupaya mempromosikan Indonesia di dunia internasional.
Kali ini, BKPM berpartisipasi dalam acara Annual Investment Meeting (AIM) 2011 yang diadakan Kementerian Perdagangan Internasional Uni Emirat Arab pada tanggal 10–12 Mei 2011

Tujuan jangka panjang dari AIM, kata Gita, adalah untuk mengkatalisasi proses pemulihan perekonomian global, serta untuk memastikan arus investasi yang dinamis antara investor yang potensial dengan kesempatan dan tujuan investasi yang prospektif.
Kegiatan AIM akan mempertemukan insitusi-institusi penanaman modal di dunia, perusahaan–perusahaan terkemuka di dunia dan para pejabat pemerintah.

02.13 | 0 komentar | Read More

Pengusaha Malaysia Jajaki Bisnis di Indonesia

Inbox News -  30 perusahaan anggota delegasi investor Malaysia yang tergabung dalam Association of Chinese Chamber of Commerce and Industry of Malaysia (ACCCIM) menyatakan minatnya berinvestasi di Indonesia.

"Kami tertarik investasi di Indonesia, terutama perkebunan, pertambangan, properti, manufaktur, dan infrastruktur," ujar Wakil Presiden ACCCIM, Dato Tan Seng Leong dalam konferensi pers BKPM-HSBC business briefing di Jakarta, Senin 30 Mei 2011.

Pertemuan yang di prakarsai HSBC bekerja sama dengan Badan Koordinasi Penanaman Modal memfasilitasi ACCCIM yang memiliki anggota ratusan ribu perusahaan di antaranya adalah The Lion Group, BCB Bhd, dan Low Fatt Wood Industries.
Dalam pertemuan tersebut, mereka membahas mengenai kondisi pasar Indonesia seperti isu perizinan, infrastruktur, ekonomi makro, politik, dan ketenagakerjaan.

Dato mengungkapkan, sangat terkesan dengan Indonesia dan tertarik untuk berpartisipasi dalam kemajuan ekonomi Indonesia. "Indonesia itu sumber daya berlimpah, tenaga kerja murah, populasi terbesar nomor empat dunia,emerging country bersama China dan India, kami sangat terkesan," tambah dia.

Namun, mereka belum dapat memastikan berapa nilai investasi yang akan ditanamkan di Indonesia.
Menurut Director Commercial Banking HSBC Malaysia, Alvin Tay, kedatangan pengusaha Malaysia tersebut untuk mengetahui iklim investasi dan aturan-aturan pemerintah mengenai investasi asing di Indonesia. "Belum bisa di pastikan, kita ingin tahu lebih banyak tentang iklim investasi, kultur investasi, dan aturan dari pemerintah Indonesia," Kata dia.

Sedangkan Senior Vice President International Business HSBC Indonesia, Nick Gandolfo berpendapat, Indonesia adalah negara emerging country dan memimpin di Asia dengan China dan India. Sehingga, ia optimistis terhadap masa depan ekonomi Indonesia. "Saya optimis, karena Indonesia sebagai emerging country bersama China dan India," ujarnya.

Para pengusaha Malaysia beranggapan bahwa tidak hanya dengan satu-dua hari saja untuk proses berinvestasi, tetapi mereka memerlukan waktu untuk meyakinkan pengusaha-pengusaha Malaysia agar dapat memahami peraturan dan iklim investasi di Indonesia.

Dato menambahkan, pengusaha Malaysia juga mempersilahkan pengusaha Indonesia untuk menanamkan investasinya di Malaysia. "Kami sangat bersedia bekerja sama," kata dia. 

02.11 | 0 komentar | Read More
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...